Minggu, 29 Maret 2015

Saat- Saat Seperti Ini

Karena aku sudah terlanjur mencintaimu
Seperti rahim yang tak mungkin menelan lagi anaknya
Sekali-pun laba- laba telah membangun sarangnya dalam hatimu
Sesungguhnya aku tidak ingin keluar

Atau biarlah di dalamnya aku di sekap
Dengan nafas yang terengah- engah
Teriring isak yang tersandung- sandung di tenggorokan

Inilah aku yang betapa ingin membangkitkanmu yang tergeletak
Mungkin ini garis terberat aku mencintaimu
Ada baiknya aku memohon ampun
Mengakui kelemahan
Menjunjung tinggi belas kasihan

Dan tak lupa berterima kasih
Aku tidak ingin hanya sekedar ada
Tapi siap dan lagi bisa

Bila lengah mata melihat
Atau lelah pundah memikul
Ketahuilah, langkahku tetaplah engkau

Aku ingin terlempar untuk membentur bola matamu
Lalu menggelinding di atas setiap esokmu
Bagiku, wajah yang di pukul kelak masih lebih ringan
Daripada tidak di peluk kamu di saat- saat seperti ini

Karena tidak di cintaimu adalah sesuatu yang baru
Yang membuatku merasa asing
Di antara segala hati yang membuka pintunya kepadaku

Di dalam tubuhku
Di dalam hidupku
Kaulah darahku

Alasan degup jantungku
Kini aku merasa bahwa hatimu telah menelanku hidup- hidup
Ataukah aku melantur?

Tidak… Aku hanya takut menjadi bangkai dalam hatimu
Itu saja

Mengais Masa Lalu - Dwitasari

Kamu selalu mengajari ku mengais-ngais masa lalu
Memaksa ku untuk kembali menyentuh kenangan

Terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja
Seakan-akan sosok mu nyata

Menjelma menjadi pahlawan kesiangan
Yang merusak kebahagiaan

Dalam kenangan kau seret aku perlahan
Menuju masa yg harusnya aku lupakan

Hingga aku kelelahan
Hingga aku sadar bahwa aku sedang di permainkan...

Inikah caramu menyakiti ku?
Inikah caramu mencabik-cabik perasaanku?

Apakah dengan melihat tangis ku itu berarti bahagia buat mu?
Apakah dengan menorehkan luka di hatiku?

Berarti kemenangan bagimu....

Siapa aku di matamu?
Hingga begitu sulit kau lepaskan aku dari jeratanmu...

Apakah boneka kecil mu ini dilarang untuk bahagia?
Apakah wayang yang sering kau mainkan ini dilarang mencari kebebesan?
Mengapa kau sering memperlakukan aku seperti mainan?

Kapan kau ajari aku kebebesan?
 Ajari aku caranya melupakan..

Meniadakan segala kecemasan
Meniadakan segala kenangan

Nyatanya derai air mataku hanya di sebabkan olehmu

Ajari aku caranya melupakan..
Sehingga aku lupa caranya menangis
Sehingga aku lupa caranya meratap
Karena aku selalu kenal air mata

Aku hanya ini tertawa
Sehingga hati aku mati rasa akan luka...

Sabtu, 28 Maret 2015

Terimakasih

Terimakasih pernah datang, lalu menghilang
Terimakasih pernah ada, lalu tiada
Terimakasih pernah menghibur, lalu kabur
Terimakasih pernah meninggikan harap, lalu menjatuhkan
Terimakasih pernah mendekat, lalu menjauh
Terimakasih pernah peduli, lalu tak acuh
Terimakasih
Terimakasih